Dimana puzzle ku?
Samar berkabut, munculpun tak mau
Dimana dia?
Kusibak tumpukan Koran
Aaakkhhh . . . kembali tak ada
Matikah dia? Atau . . . Entahlah . . .
Tidak . . . aku masih bisa mencium aromanya
Gerak bayangannya pun masih ada
Kini terasa semakin dekat
Bayangan itu tiba – tiba memelukku dari belakang
Dingin dan kaku
Desah nafasnya tak seperti dulu
Ada apa ini?
Aku masih mencoba tetap tenang menikmati pelukan bayangan itu
Tapi . . .
Luka . . . Ya, aku mencium bau anyir darah
Siapa dia?
Aku masih tak berani menoleh
Benarkah dia?
Atau justru bayangan lain?
Kucoba saja tempelkan punggungku dengan dadanya
Masih hangatkah aliran itu?
Degup jantungku makin kencang
Kudengar nafasnya kian memburu
Aku semakin takut, dia datang lagi
Serpihan puzzle ku . . .